Mang Hadi, Buruh Tani Sahabat Saya

Senyum Mang Hadi dalam mensyukuri hasil karyanya boleh jadi mewakili sebagian besar masyarakat kelas sekian di Republik ini. Senyum yang sering diadopsi untuk menutupi seringai mereka yang merasa dapat mewakilinya di suatu lembaga terhormat.

Mang Hadi selalu terkekeh-kekeh jika saya bercerita bahwa menak-menak, agan-agan, orang-orang besar, dan orang-orang pintar selalu membicarakan nasibnya dan berlomba ingin mengangkat kehidupannya. Bahkan mereka tanpa malu-malu selalu mengatasnamakan kelompok mang Hadi dalam kegiatannya. Tak lupa pula disertai dengan acungan kepalan tangan dan semangat menyala-nyala. Bagi Mang Hadi cerita saya itu hanyalah isapan jempol belaka. Dianggapnya saya hanya mengarang atau melucu saja.

Mang Hadi akan mulai terbahak-bahak jika saya katakan bahwa untuk membicarakan nasibnya itu menak-menak, agan-agan, orang-orang besar, dan orang-orang pintar tersebut biasanya menggunakan hotel mewah berbintang sekian (saya yakin dia tidak tahu apa itu hotel berbintang), dan pulangnya mereka akan disangoni amplop berisi duit . Saking banyak isi duitnya, amplop tersebut bahkan sampai bisa berdiri. Kadang-kadang juga diberi penghargaan berupa sertifikat sebagai tanda telah berpartisipasi dalam membahas nasib si emang. Sertifikat itu kelak dapat dipakai untuk memperkaya diri pemegangnya, bukan untuk golongan Mang Hadi. Bahkan mungkin, siapa tahu, nanti laku juga di akhirat untuk tambahan pahala. Mang Hadi pernah mencoba memasukkan potongan koran kedalam sebuah amplop bekas untuk mengetahui sebarapa banyak potongan koran yang harus dimasukkan agar amplop dapat berdiri.

Sebaliknya saya pernah terpingkal-pingkal ketika isteri Mang Hadi, Bi Pidoh, bercerita bahwa Mang Hadi tidak mendapatkan jatah BLT (Bantuan Tunai Langsung), bahkan didaftarkan pun tidak oleh “pejabat” berwenang di tempat tinggalnya. Si Bibi menyalahkan saya, karena menurutnya Mang Hadi tidak mendapatkan BLT gara-gara bersahabat dengan saya”. Weleh. Si Bibi rupanya tidak tahu kalau saya juga penerima BLT. Hanya saja namanya sedikit lebih keren, seperti: biaya perjalanan, tunjangan, uang rapat, gaji ke sekian belas dan sejenisnya. Padahal sama-sama duit belas kasihan, yang dibayarkan dari uang rakyat, termasuk juga dari golongan si emang.

Jika sedang di gubuk kami, Mang Hadi lebih suka menonton acara di kanal Discovery, National Geographic, atau Animal Planet, walaupun, katanya, dibawakan dengan bahasa “kapir” tapi isinya mudah dipahami, meresap dalam hati dan lebih dapat mendekatkan diri dengan yang Diatas. Daripada siaran lokal, yang meskipun dibawakan dalam bahasa sendiri meskipun dapat dimengerti bahasanya tapi maknanya sulit ditangkap, membingungkan, dan tidak puguh juntrungannya. Boro-boro dapat mendekatkan diri, salah-salah malah ikut berdosa karena sering, katanya, isinya mempergunjingkan orang lain yang menurut kepercayaan Mang Hadi adalah suatu dosa. Wak.

Saya sangat senang mendengarkan cerita Mang Hadi tentang dunianya. Sederhana, bersahaya, akrab dengan alam dan penguasanya. Sebaliknya saya tersenyum kecut mendengar komentar Mang Hadi mengenai dunia saya, yang meskipun kata Mang Hadi banyak orang pintar didalamnya tapi tidak sedikit yang berperilaku seperti iblis. Waduh .

Baiklah Mang, semoga senyummu dapat terus bertahan, di republik yang semakin sakit ini.


One thought on “Mang Hadi, Buruh Tani Sahabat Saya

  1. yah..prihatin…?sampai kapan kondisi sperti ini…?
    ..yah…tunggu, paling sampai akhir hayat masing2…

    …sbb para menak ,???(dominan)
    …SUMUN … BUKMUN…’UMYUN…FAHUM LAYARJI’UN..???

    koncinya : jujur dan amanah disemua lapisan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *