Melastoma Malabar

Warna biru-ungu bunganya yang menyembul diantara belukar di kaki Gunung Salak pagi itu menarik perhatian saya. Memaksa saya menyeruak diantara hamparan belukar yang cukup lebat. Dialah Melastoma dari Malabar atau Melastoma malabathricum. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Harendong.

Melastoma merupakan tanaman perdu, dapat mencapai ketinggian 2-4 m dengan wilayah sebaran di Asia Tenggara, India, Srilangka hingga ke Papua New Guinea, Australia dan kepulauan Pasifik. Mereka kerap ditemukan di lereng gunung, areal perkebunan, bahkan di persawahan. Selain bunganya yang Indah, buahnya manis berbentuk kapsul menyerupai buah beri.

Melastoma konon berkhasiat obat karena kandungan saponin dan flavanoidnya. Tanaman ini kerap digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, keputihan, pendarahan, dan keracunan.

Satu hal yang menarik dari tanaman ini adalah kemampuannya dalam menyerap Aluminium (Al) dari dalam tanah tanpa menunjukkan gejala keracunan. Dengan demikian, Melastoma dapat dimanafaatkan sedemikian rupa untuk membantu ketersediaan Phospor (P) dalam tanah bagi tanaman pertanian di sekitarnya. Melastoma malabathricum mampu menimbun Al pada daun muda, dewasa, tua dan akarnya berturut-turut sebanyak 8.000, 9.200, 14.400 dan 10.400 ppm (Watanabe et al. , 1998). Penurunan kadar Al tanah diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan P serta meningkatkan efisiensi serapan P oleh tanaman utama.

(Foto oleh Wahyu Purwakusuma)

Kembang Telang

Entah apa yang ada di benak ilmuwan pada saat menemukan dan mengidentifikasi bunga ini sehingga genus bunga tersebut diberi nama after the human female pudenda, clitoris (organ sex luar wanita). Silahkan simak foto bunga disamping dan bandingkan bentuknya (dengan apa?) agar dapat memahami mengapa mereka terinspirasi menamainya demikian. Salah satu daerah di Indonesia, secara “jujur”, menyebutnya sebagai Bunga Kelentit. Menarik untuk ditelusuri apakah nama daerah tersebut merupakan terjemahan dari nama Ilmiahnya, atau nama ilmiahnya merupakan terjemahan dari nama daerah, atau keduanya tidak berhubungan tapi nama tersebut sama-sama terinspirasi oleh bentuk dan benda yang sama, meskipun oleh orang berbeda di tempat berbeda. Nama spesiesnya merupakan nama daerah di Indonesia: Ternate, sehingga nama Latin lengkapnya adalah Clitoria ternatea. (Jika di-Bahasa-Indonesia-kan bisa jadi berabe)

Kembang Telang, Bunga Biru, Bunga Kelentit, Bunga Telang, Kembang Teleng, Menteleng, Bunga Talang, Bunga Temanraleng, Bisi, atau Sejamagulele adalah tanaman semak menjalar tahunan dengan panjang 3-5 m, batang membelit, masif, dengan permukaan beralur berwarna hijau. Tanaman ini merupakan tanaman asli Asia tropis, biasa dijumpai di pekarangan atau di pinggir hutan.

Selain sebagai tanaman hias, warna biru dari ekstrak bunganya (berwarna biru cantik) kerap digunakan sebagai pewarna makanan dan minuman. Konon tanaman ini juga berkhasiat sebagai obat. Dalam risalah obat-obatan tradisinonal Ayuvedic, tanaman ini digunakan selama berabad-abad sebagai peningkat daya ingat, nootropic, antistress, antidepressant, anticonvulsant , anxiolytic , penenang dan sedatif.

Karena bentuknya yang mirip salah satu organ tubuh manusia tanaman inipun sering digunakan untuk pengobatan yang berhubungan dengan bentuk tersebut, yaitu untuk mengatasi disfungsi seksual seperti berkurangnya kesuburan, mengatur menstruasi, bahkan sebagai aprodisiak.

Beberapa tulisan menyebutkan Clitoria ternatea mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, ca-oksalat , sulfur, kaemferol 3-glucoside, triterpenoid. delphinidin 3.3′.5′, triglucoside, dan fenol. Dengan demikian, tanaman ini konon dapat dijadikan obat untuk abses,/bisul , radang mata, demam, busung perut, sakit telinga, bronchitis, iritasi kandung kemih dan saluran kencing, juga sebagai pencahar, diuretik, perangsang muntah dan pembersih darah.

Anyway meskipun tanaman ini mempunyai sederet reputasi yang menjanjikan, saya lebih menyukainya sebagai tanaman hias. Bunganya yang Indah dapat dijadikan objek fotografi makro yang inspiratif.

(dari berbagai sumber; foto oleh Wahyu Purwakusuma)

Mang Hadi, Buruh Tani Sahabat Saya

Senyum Mang Hadi dalam mensyukuri hasil karyanya boleh jadi mewakili sebagian besar masyarakat kelas sekian di Republik ini. Senyum yang sering diadopsi untuk menutupi seringai mereka yang merasa dapat mewakilinya di suatu lembaga terhormat.

Mang Hadi selalu terkekeh-kekeh jika saya bercerita bahwa menak-menak, agan-agan, orang-orang besar, dan orang-orang pintar selalu membicarakan nasibnya dan berlomba ingin mengangkat kehidupannya. Bahkan mereka tanpa malu-malu selalu mengatasnamakan kelompok mang Hadi dalam kegiatannya. Tak lupa pula disertai dengan acungan kepalan tangan dan semangat menyala-nyala. Bagi Mang Hadi cerita saya itu hanyalah isapan jempol belaka. Dianggapnya saya hanya mengarang atau melucu saja.

Mang Hadi akan mulai terbahak-bahak jika saya katakan bahwa untuk membicarakan nasibnya itu menak-menak, agan-agan, orang-orang besar, dan orang-orang pintar tersebut biasanya menggunakan hotel mewah berbintang sekian (saya yakin dia tidak tahu apa itu hotel berbintang), dan pulangnya mereka akan disangoni amplop berisi duit . Saking banyak isi duitnya, amplop tersebut bahkan sampai bisa berdiri. Kadang-kadang juga diberi penghargaan berupa sertifikat sebagai tanda telah berpartisipasi dalam membahas nasib si emang. Sertifikat itu kelak dapat dipakai untuk memperkaya diri pemegangnya, bukan untuk golongan Mang Hadi. Bahkan mungkin, siapa tahu, nanti laku juga di akhirat untuk tambahan pahala. Mang Hadi pernah mencoba memasukkan potongan koran kedalam sebuah amplop bekas untuk mengetahui sebarapa banyak potongan koran yang harus dimasukkan agar amplop dapat berdiri.

Sebaliknya saya pernah terpingkal-pingkal ketika isteri Mang Hadi, Bi Pidoh, bercerita bahwa Mang Hadi tidak mendapatkan jatah BLT (Bantuan Tunai Langsung), bahkan didaftarkan pun tidak oleh “pejabat” berwenang di tempat tinggalnya. Si Bibi menyalahkan saya, karena menurutnya Mang Hadi tidak mendapatkan BLT gara-gara bersahabat dengan saya”. Weleh. Si Bibi rupanya tidak tahu kalau saya juga penerima BLT. Hanya saja namanya sedikit lebih keren, seperti: biaya perjalanan, tunjangan, uang rapat, gaji ke sekian belas dan sejenisnya. Padahal sama-sama duit belas kasihan, yang dibayarkan dari uang rakyat, termasuk juga dari golongan si emang.

Jika sedang di gubuk kami, Mang Hadi lebih suka menonton acara di kanal Discovery, National Geographic, atau Animal Planet, walaupun, katanya, dibawakan dengan bahasa “kapir” tapi isinya mudah dipahami, meresap dalam hati dan lebih dapat mendekatkan diri dengan yang Diatas. Daripada siaran lokal, yang meskipun dibawakan dalam bahasa sendiri meskipun dapat dimengerti bahasanya tapi maknanya sulit ditangkap, membingungkan, dan tidak puguh juntrungannya. Boro-boro dapat mendekatkan diri, salah-salah malah ikut berdosa karena sering, katanya, isinya mempergunjingkan orang lain yang menurut kepercayaan Mang Hadi adalah suatu dosa. Wak.

Saya sangat senang mendengarkan cerita Mang Hadi tentang dunianya. Sederhana, bersahaya, akrab dengan alam dan penguasanya. Sebaliknya saya tersenyum kecut mendengar komentar Mang Hadi mengenai dunia saya, yang meskipun kata Mang Hadi banyak orang pintar didalamnya tapi tidak sedikit yang berperilaku seperti iblis. Waduh .

Baiklah Mang, semoga senyummu dapat terus bertahan, di republik yang semakin sakit ini.

Steps of Installing the Small Hole Biopore Based Artificial Recharge (bio_bar)

Select location where overland flow tends to converge, or dig a furrow to direct overland flow into the hole.

Drill a pit hole at the bottom of furrow using “biopori” auger up to maximum 100 cm depth or above water table if water table is shallow.

When necessary, plug the most upper part of the hole with a hollow protection cap

Soon, fill up the hole with solid organic waste