Manjakan Telinga di Ruang Kerja dengan SoundSticks III.

Jatuh cinta pada pandangan pertama terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Ketika itu saya melihatnya terpampang di salah satu toko elektronik besar di satu kota di Eropa. Dia disandingkan dengan produk komputer besutan Mac yang terkenal selalu dirancang indah nan futuristik sehingga sangat membangkitkan selera. Meskipun demikian, cinta terpaksa bertepuk sebelah tangan. Memboyong produk untuk pasar Eropa ke Indonesia sangat beresiko. Iklim Indonesia yang lembab dapat menyebabkan produk semacam itu “memble”.
Tahun lalu saya melihatnya lagi dipajang di salah satu toko elektronik besar lokal. Cinta lamapun bersemi kembali. Tanpa pikir panjang saya boyong dia ke ruang kerja. Ternyata yang saya dapatkan 2 generasi lebih maju, dibandingkan dengan produk yang saya lihat sebelumnya. Hebat.

Setelah dihubungkan dengan komputer jinjing (dengan IDT high definition audio codec driver) yang biasa dipakai, sayapun segera menguji kehandalan speaker multimedia ini. Seperti telah diduga, suara yang dihasilkan sangat “Harman Kardon”, seperti kakaknya di ruang dengar, bulat, jernih dan mampu mereproduksi suara terekam dengan sangat baik. Suara tetap utuh meskipun volume dipasang hingga tinggi, tidak kedodoran. Tidak ada cela untuk kelasnya. Volume 50 % di speaker dan 50 % di komputer sudah akan menggelegarkan ruang kerja, dan menimbulkan protes penghuni lain.

Permainan gitar Alex Fox, apalagi saat memainkan Eyes of Elvira atau Historia de un Amor, aksi Francis Goya dan vocal Selena Jones dengan pisahan music jazznya pun tereproduksi nyaris sempurna. Lagu Alejate yang dibawakan oleh A Hammond dan M Sharon dalam format Hybrid Stereo, Super Audio CDkeluaran Top Music International, Austria (keeping CD ini dipasarkan dengan harga nyaris Rp 500.000,-, edun!) terdengar sangat alami, lantang. Dentingan gitarnya terlontar seperti seharusnya, menggairahkan jiwa. “Jamás sentí en el alma tanto amor”, katanya.

Sedikit memaksa saya coba hubungkan speaker ini ke pemutar blue ray Sony BD 370 dan Panasonic BDT 110 (keduanya pemegang bintang 5 untuk kinerja di salah satu majalah audio-visual asal Inggris) untuk memainkan keping blue ray Avatar dan Super 8. Ruang kerjapun berubah menjadi mini home theater. Gelegar dan dialog tidak kehilangan tenaga. Kehandalan BD 370 dan BDT 110 pun masih tetap dapat dirasakan meskipun SoundSticks III hanya dapat menggunakan keluaran RCA-nya saja .

SoundSticks III adalah produk Harman (USA) yang mengantongi merek Harman Kardon. Piranti ini dipacu oleh 4 buah full range driver 1” berkekuatan RMS 10 watt di setiap kanal satelitnya. Berat masing-masing satelit 0.7 kg dengan dimensi diameter x tinggi 51mm x 254mm. Satelit ini dilengkapi bantalan kaki berbentuk lingkaran (cicin) dari silikon yang sangat kokoh. Sedangkan Subwoofer dipersenjatai dengan driver woofer 6” tipe down firing berkekuatan RMS 20 watt (berat 2.2 kg, dimensi diameter x tinggi 232mm x 258mm). Kabel speaker besar dan gagah. TIdak seperti speaker pada umumnya, body SoundSticks III dibuat dari flexy glass transparan dengan bentuk futuristik, sehingga tidak heran jika produk ini menjadi penghuni tetap Museum of Modern Art (MoMA) New York. Dengan material seperti itu seluruh jeroan SoundSticks III dapat dilihat dengan jelas. Konsumsi listrik maksimum 60 watt, sedangkan pada saat idle 4 watt.

Satu hal yang agak kurang dari piranti ini adalah kontrol volumenya yang bertipe sentuh. Selain sangat sensitif, dengan tipe seperti ini level volume tidak dapat diketahui dengan pasti (tidak ada indikator tingkat volume) apakah dalam posisi rendah, sedang, atau maksimum.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *